ITB dan PLN EPI Dorong Transisi Energi, Manfaatkan Limbah Pertanian-Perkebunan Desa Jadi Penyuplai Energi Terbarukan

Oleh Acep Purqon, Ph.D. -

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menggelar Pelatihan Pengelolaan Biomassa melalui Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Perkebunan di Labtek XV, ITB Kampus Ganesha, pada 28–29 April 2026. Kegiatan ini diikuti kelompok tani dari Lombok, Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Cilacap sebagai upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendukung transisi energi melalui pemanfaatan biomassa.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai pengelolaan biomassa agar mampu memasok bahan baku sesuai standar program co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Co-firing sendiri merupakan skema pencampuran biomassa dengan batubara sebagai bahan bakar pembangkit untuk mengurangi emisi sekaligus mendukung transisi energi. Melalui pelatihan ini diharapkan pembakaran terbuka limbah pertanian dan perkebunan berkurang, serta mulai terbentuknya usaha biomassa desa yang memberi nilai tambah ekonomi.

Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi, S.T., M.T., menyampaikan bahwa ITB terus melakukan pendekatan untuk membuat solusi energi alternatif, termasuk melalui pengembangan bio-batubara. Salah satu potensi riset yakni mencari formulasi optimum pemanfaatan limbah menjadi sumber energi campuran batubara yang lebih ramah lingkungan.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Dr. Ir. Hariana, S.T., M.M. (Research Group Thermal and Solid Fuel Combustion BRIN), Erfan Julianto selaku (Vice President Produksi dan Rantai Pasok Biomassa PLN EPI), serta Ir. Ichsan Maulana, S.T., M.M., IPM., ASEAN Eng. (Koperasi Produsen Energi Biomassa Indonesia). Kegiatan dipandu Acep Purqon, S.Si., M.Si., Ph.D., (Dosen Fisika FMIPA ITB dari Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks).

Acep mengatakan, transisi energi membuka ruang kolaborasi yang sangat luas, mulai dari riset, teknologi, inovasi, hingga pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, isu biomassa membutuhkan keterlibatan berbagai bidang, seperti pertanian, kehutanan, teknik mesin, bisnis, dan manajemen, untuk berkolaborasi menjawab tantangan krisis energi.

Dari sisi industri, Erfan Julianto menjelaskan bahwa peluang pemanfaatan biomassa cukup besar, meski tetap disertai tantangan, terutama dalam skema kontrak pembelian dan pemenuhan spesifikasi teknis yang dibutuhkan PLTU. Standar kualitas biomassa, menurutnya, menjadi faktor penting agar pembangkit dapat beroperasi optimal. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas kelompok tani dan pelaku usaha biomassa menjadi langkah strategis dalam memperkuat rantai pasok energi terbarukan.

Setelah di kampus, rangkaian pelatihan dilanjutkan di BRIN Serpong pada 30 April 2026. Pada kesempatan tersebut, Hariana mendemonstrasikan berbagai alat co-firing skala kecil yang dapat dimanfaatkan kelompok usaha kecil dengan kapasitas produksi terbatas. Kegiatan ini melengkapi pembahasan sebelumnya mengenai aspek kelayakan usaha dan finansial yang disampaikan Ichsan Maulana. Ia juga menjelaskan potensi pasar, termasuk peluang ekspor biomassa dengan tuntutan kualitas tertentu.

Biomassa sebagai Strategi Transisi Energi

Pemanfaatan biomassa sebagai strategi transisi energi sejalan dengan kebijakan energi nasional, yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, dengan 61 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Porsi energi baru terbarukan dalam bauran listrik nasional juga ditargetkan meningkat dari sekitar 15–16 persen pada 2025 menjadi sekitar 34 persen pada 2034.

Perubahan kebijakan tersebut pun mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060. Dalam konteks tersebut, skema co-firing biomassa di PLTU menjadi strategi transisi yang relevan karena memungkinkan penggantian sebagian batubara tanpa perlu membangun pembangkit baru secara masif. Dengan demikian, infrastruktur PLTU yang ada tetap dimanfaatkan dan jejak karbonnya dapat dikurangi secara bertahap.

Pelatihan ini juga memosisikan desa sebagai mitra strategis dalam menyuplai energi terbarukan sekaligus mendorong transformasi ekonomi lokal. Melalui kolaborasi antara ITB, PLN EPI, BRIN, komunitas energi biomassa, dan kelompok tani, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem biomassa yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan.

#itb #itb berdampak #biomassa #transisi energi #energi terbarukan #pemberdayaan masyarakat #ekonomi desa #riset itb #kolaborasi industri #sdg7 #affordable and clean energy #sdg8 #decent work and economic growth #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals