Dari Bandung ke Bangladesh: Film “Cecilia” LFM ITB Juarai Cinemation Festival Hingga Tayang di Rishka Fest
Oleh Johanes Wijaya Susanto - Teknik Telekomunikasi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
SUMEDANG, itb.ac.id – Tim mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB), Ophiuchus Project, meraih juara 2 nasional pada kompetisi film pendek di Cinemation Festival 2025 pada 4 November 2025 yang diadakan di Auditorium Bale Santika, Universitas Padjadjaran (Unpad), Sumedang. Pada kompetisi ini, mereka membawakan film pendek berjudul “Cecilia”.
Kemenangan tingkat nasional ini bukanlah satu-satunya pencapaian. Film ini terpilih untuk diputar dalam ajang bergengsi Rishka Fest. dan mendapat apresiasi di level global. “Cecilia” berhasil ditonton audiens mancanegara hingga ke Bangladesh.
Tim ini beranggotakan 11 anggota LFM ITB Angkatan 2022 dan 2023, di antaranya Naurah Safa Ararya Cetta (KR’22) sebagai pemeran Cecilia, Vincentius Bhagaskara (AS’22) sebagai sutradara dan penulis, serta Stephanus Jan Deardo Sihotang (BP’22) sebagai penulis dan asisten sutradara.
Film tanpa dialog ini menceritakan penari bernama Cecilia. Karakter Cecilia, sosok perempuan yang menari di atas panggung merupakan simbolisme kisah hidup manusia. Lewat film berdurasi sembilan menit tersebut, manusia digambarkan mengalami berbagai macam emosi dan peristiwa di dalam hidupnya. Pesan ini didapatkan dari setiap tindakan dan aksi di filmnya. Di saat Cecilia menari dengan indah, banyak orang yang memberikan pujian dan apresiasi. Namun, setelah dilihat oleh banyak orang, tarian Cecilia menjadi buruk dan mulai mendapatkan hujatan dan cemooh dari banyak orang. Dari film ini, manusia diperlihatkan memiliki ekspektasi dan harapan yang berbeda-beda.
Ide film pendek “Cecilia” ini berasal dari pengalaman pribadi penulis, Stephanus.
“Ada di suatu saat, aku merasa gagal dalam suatu hal dan seperti mendapatkan hujatan. Dari situ ingin mencoba membingkainya dalam bentuk karya, seperti film pendek,” ujarnya.
Selain itu, Stephanus memiliki ketertarikan dalam dunia seni, khususnya tari. Menurutnya, tari adalah salah satu media seni yang bisa mengekspresikan emosi seseorang. Oleh karena itu, tari menjadi poin utama yang dilakukan pemeran.
Sosok Cecilia di film ini secara eksplisit menyertakan representasi wanita dengan menyoroti perjuangan serta realitas kerentanan yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Melalui gambaran tersebut, film ini berusaha membangun kesadaran penonton mengenai perlunya keberpihakan yang jelas terhadap isu spesifik yang dialami perempuan.
Proses pembuatan “Cecilia” dilakukan selama 5 bulan, yakni dari November 2024 hingga Maret 2025. Prosesnya meliputi pembuatan script cerita, penentuan keperluan yang dibutuhkan, pencarian kru hingga proses pembuatan dan finalisasi film.
Dalam pembuatan “Cecilia”, terdapat tantangan yang dihadapi, terkhusus oleh sutradara, Bhagas. Film ini merupakan garapan pertamanya.
“Di LFM, aku berasal dari bidang apresiasi, kajian, dan reviu film. Jadi belum ada pengalaman untuk menyutradarai film. Di awal memang cukup stres, namun semua dapat diatasi dengan terus belajar karena pada dasarnya seorang sutradara harus memiliki visi yang kuat,“ ujarnya.
Pemilihan judul juga menjadi keputusan yang paling penting dalam pembuatan film. Judul “Cecilia” diambil dari bunga mawar cecilia. Selain itu, Cecilia juga nama Santa pelindung musik di Kekristenan serta nama yang cukup awam di masyarakat.

Selanjutnya LFM akan terus mencoba membuat film pendek lainnya.
“Harapannya semoga selanjutnya bisa membuat lebih banyak film pendek. Film pendeknya juga semoga bisa dapat dikompetisikan dan ditayangkan di berbagai festival film yang ada di Indonesia maupun di kancah internasional,” kata Bhagas.
Selain memperoleh Juara 2 Cinemation Festival, “Cecilia” berhasil memperoleh nominasi di beberapa festival, seperti UI Film Festival Official Selection, Airlangga Cinema Festival Official Selection, Dynamic Cinema Festival Official Selection, Festival Seni Televisi dan Film Official Selection.







