Kuliah Tamu Prof. Cordelia Selomulya di ITB Jatinangor: Inovasi Proses untuk Sistem Pangan Berkelanjutan
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Teknik Pangan, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
JATINANGOR, itb.ac.id – Prof. Cordelia Selomulya, Head of School of Chemical Engineering dari University of New South Wales (UNSW), Australia menjadi pembicara pada Visiting Academic Leader Program yang digelar Program Studi Teknik Pangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (17/4/2026), di GKU 2, ITB Kampus Jatinangor.
Prof. Cordelia menyampaikan materi berjudul "Designing Sustainable Food Systems Through Process Innovation". Kuliah tamu ini menyoroti bagaimana inovasi dalam teknik proses dapat menjadi kunci dalam menjawab tantangan global terkait ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Inovasi dari Hulu ke Hilir
Prof. Cordelia membagikan berbagai hasil riset strategis yang sedang dikembangkan oleh Future Food Systems CRC. Beberapa di antaranya mencakup penggunaan smart glass film pada rumah kaca untuk meningkatkan efisiensi energi dan air, hingga pemanfaatan teknologi pemetaan spasial untuk industri tanaman buah di Australia.
Salah satu hal yang dibahas adalah upaya scaling up produksi partikel fungsional berbasis Magnesium (Mg) melalui metode spray drying. Bahan baku yang digunakan berasal dari limbah operasional garam solar, sebuah langkah nyata dalam konsep ekonomi sirkular.
Selain fokus pada pengolahan di laboratorium, Prof. Cordelia memaparkan bahwa teknologi digital dan material maju kini memegang peranan krusial dalam ekosistem pangan. Salah satu contoh yang disoroti adalah implementasi Australian Tree Crop Map (ATCM), sebuah sistem pemetaan spasial yang mampu memantau kesehatan dan produktivitas kebun secara presisi di seluruh benua Australia. Teknologi ini telah teruji dalam melakukan penilaian dampak bencana secara cepat saat Siklon Fina melanda di penghujung tahun 2025. Selain itu, inovasi pada smart glass untuk rumah kaca turut dipamerkan sebagai solusi cerdas untuk memodifikasi spektrum cahaya, yang terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendongkrak hasil panen secara berkelanjutan.
Prof. Cordelia pun menekankan pentingnya sinergi antara riset murni dan skalabilitas industri. "Di industri, faktor ekonomi dan pasar adalah penentu utama. Namun, penelitian harus tetap berjalan di dua jalur: satu sisi untuk menemukan data baru guna mengurangi waste, dan di sisi lain memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan secara luas (scalable)," ujarnya.
Menepis Kesenjangan Pangan Masa Depan
Mengenai etika dan keadilan sosial dalam sistem pangan masa depan, muncul kekhawatiran bahwa sumber protein alternatif seperti serangga (insect protein) atau mikroprotein dari limbah cair tahu hanya akan menjadi opsi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sementara masyarakat kelas atas tetap menikmati protein konvensional yang lebih mahal. Prof. Cordelia pun optimistis teknologi pangan bertugas untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui inovasi pengolahan, seperti mengubah protein serangga menjadi bubuk (powder) dengan formulasi rasa yang enak, protein alternatif dapat diterima oleh semua kalangan. Strategi ini sudah mulai terlihat di beberapa negara Asia Tenggara, produk serangga mulai dikomersialkan secara luas, bukan sekadar makanan darurat.
Membangun Ekosistem Inovasi
Kuliah tamu memberikan wawasan teknis, juga membuka perspektif baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya membangun ekosistem inovasi pangan yang inklusif. Melalui kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu, diharapkan lulusan Teknik Pangan ITB mampu menjadi pionir dalam menciptakan sistem pangan yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga berkeadilan dan ramah lingkungan.
Kegiatan yang didukung oleh LPDP dan Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB ini ditutup dengan harapan agar kerja sama akademik antara ITB dan UNSW dapat terus berlanjut di masa depan.





